Jumat, 15 Desember 2017

Penyebab, Tanda dan Pencegahan Penyakit Difteri

Penyebab, Tanda dan Pencegahan Penyakit Difteri
Akhir-akhir ini Indonesia dilanda wabah penyakit yang banyak menyerang berbagai kalangan masyarakat. Masih banyak yang belum tahu apa itu penyakit difteri, mulai dari penyebab, tanda-tanda, diagnosis dan pencegahan agar tidak terserang penyakit difteri ini.

Apa itu Penyakit Difteri
Difteri adalah infeksi bakteri serius yang mempengaruhi selaput lendir tenggorokan dan hidung. Meski mudah menyebar dari satu orang ke orang lain, difteri dapat dicegah melalui penggunaan vaksin. Sangat direkomendasikan untuk segera menghubungi dokter jika Anda melihat tanda-tanda radang dan adanya lapisan abu-abu di tenggorokan dan hidung yang merupakan tanda utama difteri. Jika tidak diobati, difteri dapat menyebabkan kerusakan parah pada ginjal, sistem saraf dan jantung.

Penyebab Penyakit Difteri
Suatu bakteri bernama Corynebacterium diphtheria merupakan bakteri yang menjadi penyebab utama penyakit difteri ini. Kondisi ini biasanya menyebar melalui kontak dari satu orang ke orang lain yang telah terpapar bakteri ini, bahkan bisa melalui gelas, sendok, sapu tangan dan benda lain. Selain itu, difteri juga bisa menyebar melalui bersin atau batuk. Seseorang yang terinfeksi bisa jadi tidak menunjukkan tanda atau gejala difteri, tapi mereka masih dapat menularkan infeksi bakteri hingga enam minggu setelah infeksi awal.
Baca juga: Hubungan Bibir Kering dan Tanda-Tanda Penyakit

Sebagian besar bakteri akan menginfeksi hidung dan tenggorokan kita. Begitu Anda terinfeksi, bakteri melepaskan zat berbahaya yang disebut toksin. Racun menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan munculnya lapisan tebal yang terbentuk di sekitar :
  • hidung
  • tenggorokan
  • lidah
  • saluran pernafasan

Dalam beberapa kasus, toksin ini juga bisa merusak organ tubuh lainnya, termasuk jantung, otak dan ginjal. Hal ini dapat menyebabkan komplikasi yang berpotensi mengancam jiwa, seperti miokarditis, kelumpuhan, atau gagal ginjal.

Penyebaran Penyakit Difteri
Anak-anak yang secara rutin divaksinasi terhadap difteri memiliki resiko yang lebih rendah terserang penyakit ini. Namun, difteri masih cukup umum terjadi di negara berkembang dimana tingkat imunisasi rendah. Di negara-negara ini, anak-anak di bawah usia 5 tahun dan orang dewasa berusia di atas 60 tahun sangat berisiko terserang difteri.

Oleh karena itu, pemerintah mewajibkan anak-anak untuk diberikan imunisasi. Seseorang renan tertular difteri jika tidak mendapatkan vaksinasi, sering berkunjung ke negara yang tidak memberikan imunisasi, memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh seperti AIDS, serta hidup dalam kondisi yang tidak bersih atau sesak.

Gejala Penyakit Difteri
Tanda dan gejala penyakit difteri sering muncul dalam dua sampai lima hari setelah infeksi terjadi. Beberapa orang tidak mengalami gejala apapun, ada juga yang mengalami gejala ringan seperti flu biasa.

Gejala difteri yang paling terlihat dan umum adalah lapisan berwarna abu-abu tebal pada tenggorokan dan amandel. Gejala umum lainnya antara lain:
  • Demam
  • Panas dingin
  • Kelenjar leher bengkak
  • Batuk parah
  • Tenggorokan sakit
  • Kulit kebiruan
  • Mulut banyak memperoduksi air liur
  • Rasa tidak nyaman

Gejala tingkat lanjut dapat terjadi saat infeksi berlangsung, seperti kesulitan bernapas atau menelan, perubahan kondisi penglihatan, suara yang tidak jelas, kulit pucat dan dingin, berkeringat, dan detak jantung yang cepat.

Selain itu penyakit ini bisa berkembang menjadi difteri kulit, jika seseorang memiliki kebiasaan kebersihan yang buruk. Difteri pada kulit biasanya menyebabkan bisul dan kemerahan di daerah yang terserang.
Baca juga: Makanan Sehat Untuk Kulit Cantik

Perawatan dan Pengobatan Penyakit Difteri
Difteri adalah kondisi yang serius, jadi pengobatan perlu dilakukan dengan cepat dan agresif. Langkah pertama pengobatan adalah suntikan antitoksin yang berfungsi untuk menetralkan toksin yang dihasilkan oleh bakteri. Dokter perlu mengkonfirmasi apakan pasien alergi terhadap antitoksin sebelum memberikannya. Dokter juga bisa memberi antitoksin dalam dosis kecil dan secara bertahap meningkatkannya hingga kadar yang lebih tinggi. Dokter Anda juga akan memberikan resep antibiotik, seperti eritromisin dan penisilin, untuk membantu membersihkan infeksi.

Selama perawatan, hindari kunjungan dari orang lain untuk menurunkan resiko penularan, terutama kepada anak di bawah usia 5 tahun.

Pencegahan Penyakit Difteri
Penyakit difteri dapat dicegah dengan penggunaan antibiotik dan vaksin. Vaksin untuk difteri disebut DTaP. Vaksin ini biasanya diberikan dalam satu suntikan bersamaan dengan vaksin untuk tetanus. Vaksin DTaP diberikan sebanyak 5 suntikan secara berurutan dalam jangka waktu tertentu.
Vaksin ini diberikan kepada anak-anak pada usia:
  • 2 bulan
  • 4 bulan
  • 6 bulan
  • 15-18 bulan
  • 4-6 tahun

Dalam kasus lain, bisa saja seorang memiliki reaksi alergi terhadap vaksin tersebut. Hal ini bisa mengakibatkan kejang atau gatal-gatal, tapi akan hilang. Vaksin ini hanya bertahan selama 10 tahun, jadi seseorang perlu divaksinasi lagi sekitar usia 12 tahun. Untuk orang dewasa, disarankan agar mendapat suntikan gabungan difteri dan tetanus, yang dikenal dengan vaksin tetanus-difteri (Td). Dengan langkah-langkah di atas dapat membantu mencegah Anda dan keluarga terserang difteri di kemudian hari. Selain itu, jaga kebersihan lingkungan Anda dan budayakan hidup sehat di semua aspek kehidupan Anda.

Silahkan memberikan komentar, saran atau pertanyaan. Komentar Anda akan melalui proses moderasi oleh Admin.
EmoticonEmoticon